Kamis, 03 Mei 2018

BELAJAR DARI PERISTIWA ISRA' MIRAJ

Shalat itu bukanlah ‘part time’, ‘sometime’, apalagi ‘no time’. Shalat itu seharusnya ‘full time’ yang dikerjakan ‘on time’. Dan kalau perlu kerjakanlah shalat ‘overtime’, karena datangnya kematian itu ‘anytime’

Bismillah. Dalam meningkatkan dan mengamalkan visi SMA N 1 Sewon yaitu Relegius. Kami selaku GPAI bekerja sama  dengan Rohis An-Naafi mengadakan Pengajian Hari Besar Islam Dalam rangka Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tema yang kami sampaikan adalah sholat on time because death anytime.  Pada kesempatan ini kami mengundang Dai Muda yang bernama ustdaz Alfredo Di Stefano.  Kegiatan itu dilaksanakan pada hari Jumat, 20 April 2018 jam 08.30- selesai Di GOR SMAN 1 Sewon.
Pra acara  dimulai jam 09.00 dengan hiburan Hadroh dan nasyid Smase sembari menunggu dan mengkondisikan anak-anak untuk datang ke GOR.  Setelah penampilan Tim hadroh dilanjutkan ke acara berikutnya Yaitu pembukaan, pembacaan ayat suci Al Quran, Sambutan ketua panitia, sambutan kepala sekolah, dan acara inti dari dai Muda Yogyakarta bersama ustdaz Alfredo Di Stefano.
Acara inti dimulai jam 09.30 sampai 11.00 WIB. Dalam pengajian tersebut menyampaikan bahwa kita harus menjaga sholat kita. Terutama shalat yang wajib, hal ini tidak terlepas dari hikmah dari perjalanan nabi yaitu Isra Mi’raj untuk menerima wahyu tentang perintah sholat.Harapannya dari kegiatan ini, beliau menyampaikan agar anak-anak bisa melaksanakan sholat dengan baik, menyegerakkan sholat apabila ada panggilan adzan. Jangan menunda nuda sampai lupa... Itu bahaya.
Mari bersama-sama belajar  dari peristiwa isra mi’raj ini, kami mencoba menambahkan ibrah dari literatur yang lain. Secara istilah Isra Miraj merupakan peristiwa maha dahsyat yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebelumnya, tak ada satu pun manusia yang mengalaminya. Menempuh perjalanan superkilat lalu naik ke langit hingga sidratul muntaha. Banyak peristiwa yang dialami Rasulullah sewaktu isra miraj sejak pemberangkatan hingga kembali.
Ibrah apa saja yang bisa dipetik?

Rohis An naafi
Pertama Setelah cobaan datang silih berganti, bahkan Rasulullah mengalami tahun duka cita atau yang sering disebut 'Aamul Huzni Allah memberinya tasliyah (hiburan) dengan isra miraj ini. 
Kedua Shalat Rasulullah bersama para Nabi di Baitul Maqdis menunjukkan kedudukan beliau sebagai pemimpin para Nabi.

Ketiga Sesungguhnya Masjid Al Aqsha memiliki kaitan erat dengan Masjidil Haram. Masjid Al Aqsha merupakan tempat isra’ Rasulullah dan kiblat pertama umat Islam. Karenanya umat Islam harus mencintai Masjid Al Aqsha dan mempertahankannya dari segala upaya penjajah Yahudi yang hendak mencaplok dan merobohkannya.
Keempat Urgensi shalat dan kedudukannya yang agung. Jika perintah lain cukup dengan wahyu melalui Malaikat Jibril, perintah shalat langsung diturunkan Allah kepada Rasulullah tanpa perantara Jibril. Shalat ini pula yang menjadi inti tasliyah (hiburan) bagi hambaNya.
Kelima Keimanan umat yang paling sempurna adalah imannya Abu Bakar. Ketika orang-orang kafir Quraisy mengabarkan bahwa Muhammad mengatakan telah isra miraj, beliau langsung mempercayainya. “Jika yang mengatakan Rasulullah, aku percaya,” demikian logika keimanan Abu Bakar sehingga beliau mendapat gelar Ash Shiddiq.


0 komentar:

Posting Komentar