Minggu, 15 Januari 2017

Mahabbah kepada Allah Ta'ala

  Jika kalian mencintai Allah Ta'ala, maka ikutlah aku... " (QS Ali Imran : 31).

Mahabbah (rasa Cinta) yang teramat kuat kepada Allah Ta'ala - Sang Zat Empunya Cinta - merupakan puncak maqam (titik derajat) tertinggi seorang manusia (hamba) kepada-Nya. Tiada lagi maqam di atas Mahabbah atau rasa Cinta ini kecuali sang hamba memetik buahnya dan merasakan kelezatannya yang berupa perasaan syawq (rasa Rindu kepada-Nya yang teramat dalam...), qalbunya senantiasa tenang, dan selalu ridha atas apapun yang Dia hadirkan ke dalam kehidupannya... baik itu kedukaan - kebahagiaan, kesulitan - kemudahan, kepahitan - kesenangan... sehingga ia pun diRidhai-Nya... seperti yang tersirat di QS 48:19, 69:21, 89:28.

Sebelum dianugerahi-Nya maqam Mahabbah ini, sang hamba lebih dahulu harus menjalani Taubat Nashuha, untuk bisa meraih anugerah besar dari-Nya, yaitu rasa Sabar dan Syukur yang Sejati... yang mengalir sedemikian indah di dalam dadanya (qalbunya) bagai sungai-sungai yang mengalir sejuk... Selain itu pun sang hamba akan Dia anugerahi rasa Ikhlas dan Tawakal senantiasa akan segala hal apapun yang dihadapinya dalam setiap liku kehidupannya... Ikhlas yang tiada satupun di dalamnya perasaan mengeluh,
kecewa, kesal, iri, dendam... dan berbagai penyakit hati lainnya... sehingga pancaran Pelita Cahaya-Nya yang Dia pancarkan dan tersembunyi di dalam hati akan selalu terpancar terang keluar dari kisi-kisi zujajah - misbah Hati di dalam dada sang hamba... dan meRahmati seluruh jiwanya... Cahaya-Nya yang minyaknya berasal dari pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur dan tidak tumbuh di barat... yang minyaknya saja menerangi walaupun tiada tersentuh api... seperti yang tersirat di QS 24:35.

Maka tiadalah heran apabila nabi Muhammad Saw pernah berkata bahwa :
" Di dalam diri manusia ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu kotor, maka kotorlah seluruh jiwanya... namun apabila segumpal darah itu Baik, maka Baik jualah seluruh jiwanya... "

Dan ketika sang hamba telah Dia anugerahi derajat Mahabbah ini, maka perilakunya pun ikut teRahmati, karena akar sifat-sifat Rahman dan Rahim ini selamanya tertanam kuat dalam setiap sudut hatinya, cara berpikirnya, ucapannya, langkah-langkah perilakunya... akar-akar Kasih Sayang yang tertanam sedemikian kuat di dalam tanah Syari'at dan senantiasa disirami air hujan Do'a dan diberi pupuk Zikir kepada Allah Ta'ala Sang Zat Maha Cinta... Lihatlah seorang Muhammad Saw yang telah banyak sekali mencontohkan
kepada kita akan semua hal itu : keLembutannya, keSabarannya, keSyukurannya, keIkhlasannya, keTawakalannya, dan keMahabbahannya yang sangat mendalam kepada Allah Ta'ala maupun kepada siapa saja... yang menghiasi setiap titik perilaku lahir dan batinnya... Sehingga segala sesuatu yang ada pada beliau Saw di Ridhai-Nya...

Hal ini disebabkan karena pada dasarnya Fitrah seorang manusia adalah menjadi Hamba (abdi) Allah Ta'ala seperti yang tercantum dalam QS 51:56. Bukankah menjadi hamba-Nya yang senantiasa ridha kepada-Nya dan diRidhai-Nya adalah perintah-Nya ?...
Datanglah kepada-Nya.. dengan hati yang Tunduk dan pasrah... Ingatlah selalu Dia dalam segenap ruang hati dan jiwa kita... karena Dia-lah semata yang Maha Cinta, Maha Mengampuni segala dosa, menutupi segala aib (kekurangan) yang ada pada diri kita... Dia-lah semata yang Maha Menolong diri kita yang lemah tanpa daya ini dalam setiap duka dan kesusahan... dan Dia jualah semata yang senantiasa Setia menemani diri kita di dalam setiap liku-liku hidup dan kehidupan kita ini...

Setiap isi hati kita ini tiada yang menjadi rahasia bagi-Nya... dan setiap wajah akan tertunduk di hadapan Cahaya Wajah-Nya... Dia-lah yang Maha Segala-galanya...

" Ya, Ilahi... malam demi malam telah berlalu... siang pun telah datang Demi Keagungan-Mu, inilah kebiasaan malamku yang selalu aku lakukan untuk-Mu.
Demi Kemuliaan-Mu, meskipun mungkin Kau menolakku ketika aku mengetuk pintu-Mu, namun aku akan tetap menanti di hadapannya, karena hatiku sepenuhnya telah terpaut hanya untuk-Mu... "

" Ya Allah...
apapun yang Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini
berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
dan apapun yang Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti
berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
karena Engkau sendiri sudahlah cukup bagiku... "

" Ya, Ilahi... tenggelamkan aku dalam Cinta-Mu
hingga tiada satu pun yang akan menggangguku dalam Jumpa-Mu
Ya Ilahi... bintang-gemintang berkelap-kelip
manusia telah terlena dalam buai tidur lelap
pintu-pintu istana pun tlah rapat tertutup
Ya Ilahi... demikian malam pun berlalu
dan inilah siang datang menjelang
aku menjadi resah gelisah
apakah persembahan malamku Kau terima
hingga aku bisa mereguk Bahagia
Ataukah itu semua Kau tolak, hingga aku dihimpit duka...
Demi keMahakuasaan-Mu, inilah yang selalu aku lakukan
selama Kau beri aku kehidupan
andai Kau usir aku dari pintu-Mu
aku tidak akan pernah pergi berlalu
karena cintaku kepada-Mu sepenuh qalbu... "

(Rabi'ah al-Adawiyah)

0 komentar:

Posting Komentar