Minggu, 15 Januari 2017

Upaya Menjaga Kebersihan Hati



Tuhan menurunkan kepada manusia dua sifat, yaitu sifat hasanah (baik) dan sifat sayyi'ah (jelek). Kedua sifat ini selalu melekat pada diri manusia sepanjang hayatnya. Tetapi, sifat yang bertolak belakang secara diametral tersebut, masih sangat ditentukan oleh eksistensi hati (kalbu), sebagai potensi (al-quwwah, fakultas) yang menentukan pilihan dan tindakan (action) manusia.
Eksistensi kalbu merupakan pusat penalaran, pemikiran dan kehendak, yang berfungsi untuk berfikir, memahami sesuatu, dan bertugas atas aktualisasi terhadap segala sesuatu. Kalbu dapat dikategorikan intuisi atau pandangan yang dalam, yang mempunyai rasa keindahan, dan kehidupannya dari sinar mentari yang membawa manusia pada klebenaran, dan sebagai alat untuk mengenal kebenaran ketika pengindraan tidak memainkan peranannya.
Menurut Ibnu Athaillah Al- Sakandari, seorang sufi terkemuka, menyatakan bahwa kalbu merupakan bagian esensi kehidupan manusia. Sebagai tokoh ulama yang zahid, wara' serta sebagai duta orang-orang arif dan imam para sufi, Athaillah mengemukakan pentingnya kalbu. Bahkan, ia menegaskan bahwa untuk meraih derajat tinggi dan tempat mulia di hadapan Allah, diperlukan kedalaman pengetahuan pada diri Muhammad Saw, sebagai utusan Allah. Bagi kaum Muslim, figur utama yang perlu diikuti dan dihormati adalah Rasulullah, kata Athailah dengan nada semangat. Dengan mengikuti sunnah Rasul, secara pasti kehidupan ini akan terbimbing ke arah jalan yang diridhai Allah.
Muhammad Saw adalah orang yang senantiasa terjaga kesucian hatinya. Nabi benar-benar menjadi publik figur yang sangat disegani, dihormati karena hatinya yang sangat mulia. Dengan nada dan gaya yang fulgar, Athaillah sampai membuka kartu rahasia, bahwa salah satu kesuksesan dirinya menjalani seorang sufi, yaitu karena ia telah mengikuti Rasulullah baik secara lahir maupun bathin.
Adapun metode ampuh untuk menjaga kesucian kalbu adalah dengan taubat. Secara bahasa, taubat berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Artinya kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat yang terpuji, kembali lari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridha'i-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, dan seterusnya.
Jalan taubat sengaja di buka oleh Allah agar jika seorang Muslim melakukan kesalahan, baik yang besar maupun kecil, ia wajib segera kembali kepada jalan Allah. Dengan mengutip ayat al-Qur'an, Athaillah menyerukan: "Kembalilah kamu sekalian kepada jalan Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung". Mengapa manusia perlu bertaubat? Karena manusia dihidupkan dan dimatikan hanya oleh Allah. Sehingga modal untuk kembali kepada Allah hanyalah dengan keadaan Suci (fitrah) dari segala bentuk dosa dan perbuatan maksiat, yang menentang kemahakuasaan Allah.
Kiat untuk menundukkan kalbu juga bisa dengan muhasabah (introspeksi diri). Manusia seharusnya punya kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah di manapun ia berada, baik siang maupun malam. Dengan demikian, manusia akan terdorong untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri, perhitungan, evaluasi) terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap kalbunya sendiri. Lagi-lagi, menurut Athailah, Muhasabah dapat direncanakan sebelum melakukan sesuatu dengan secara tepat dan matang. Mempertimbangkan terlebih dahulu baik-buruk dan manfaat perbuatannya itu.
Satu hal lagi yang menjadi catatan agar Kalbu tetap suci adalah sikap ikhlas. Secara etimologis, ikhlas berakar dari khalasha yang berarti bersih, jernih, murni; tidak tercampur. Ikhlas bagaikan air bening yang belum tercapur oleh zat apapun. Sikap ikhlas berarti membersihkan atau memurnikan dari setiap kemauan, keinginan yang didasarkan bukan kepada Allah.
Ikhlas mengajarkan kepada manusia agar berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah. Karenanya, setiap perbuatan harus diawali dengan kata niat. Seperti yang dianjurkan Nabi: "Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya."
Sebagaimana yang terpaparkan di atas, tulisan ini merupakan salah kunci untuk menjaga kebersihan hati (kalbu). Jika hal ini memang benar, tentu semata-mata karena hidayah dan ilmu Allah yang diturunkan melalui hamba-Nya. 

Oleh Mujtahid, MA. *
* Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Malang.

Mahabbah kepada Allah Ta'ala

  Jika kalian mencintai Allah Ta'ala, maka ikutlah aku... " (QS Ali Imran : 31).

Mahabbah (rasa Cinta) yang teramat kuat kepada Allah Ta'ala - Sang Zat Empunya Cinta - merupakan puncak maqam (titik derajat) tertinggi seorang manusia (hamba) kepada-Nya. Tiada lagi maqam di atas Mahabbah atau rasa Cinta ini kecuali sang hamba memetik buahnya dan merasakan kelezatannya yang berupa perasaan syawq (rasa Rindu kepada-Nya yang teramat dalam...), qalbunya senantiasa tenang, dan selalu ridha atas apapun yang Dia hadirkan ke dalam kehidupannya... baik itu kedukaan - kebahagiaan, kesulitan - kemudahan, kepahitan - kesenangan... sehingga ia pun diRidhai-Nya... seperti yang tersirat di QS 48:19, 69:21, 89:28.

Sebelum dianugerahi-Nya maqam Mahabbah ini, sang hamba lebih dahulu harus menjalani Taubat Nashuha, untuk bisa meraih anugerah besar dari-Nya, yaitu rasa Sabar dan Syukur yang Sejati... yang mengalir sedemikian indah di dalam dadanya (qalbunya) bagai sungai-sungai yang mengalir sejuk... Selain itu pun sang hamba akan Dia anugerahi rasa Ikhlas dan Tawakal senantiasa akan segala hal apapun yang dihadapinya dalam setiap liku kehidupannya... Ikhlas yang tiada satupun di dalamnya perasaan mengeluh,
kecewa, kesal, iri, dendam... dan berbagai penyakit hati lainnya... sehingga pancaran Pelita Cahaya-Nya yang Dia pancarkan dan tersembunyi di dalam hati akan selalu terpancar terang keluar dari kisi-kisi zujajah - misbah Hati di dalam dada sang hamba... dan meRahmati seluruh jiwanya... Cahaya-Nya yang minyaknya berasal dari pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur dan tidak tumbuh di barat... yang minyaknya saja menerangi walaupun tiada tersentuh api... seperti yang tersirat di QS 24:35.

Maka tiadalah heran apabila nabi Muhammad Saw pernah berkata bahwa :
" Di dalam diri manusia ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu kotor, maka kotorlah seluruh jiwanya... namun apabila segumpal darah itu Baik, maka Baik jualah seluruh jiwanya... "

Dan ketika sang hamba telah Dia anugerahi derajat Mahabbah ini, maka perilakunya pun ikut teRahmati, karena akar sifat-sifat Rahman dan Rahim ini selamanya tertanam kuat dalam setiap sudut hatinya, cara berpikirnya, ucapannya, langkah-langkah perilakunya... akar-akar Kasih Sayang yang tertanam sedemikian kuat di dalam tanah Syari'at dan senantiasa disirami air hujan Do'a dan diberi pupuk Zikir kepada Allah Ta'ala Sang Zat Maha Cinta... Lihatlah seorang Muhammad Saw yang telah banyak sekali mencontohkan
kepada kita akan semua hal itu : keLembutannya, keSabarannya, keSyukurannya, keIkhlasannya, keTawakalannya, dan keMahabbahannya yang sangat mendalam kepada Allah Ta'ala maupun kepada siapa saja... yang menghiasi setiap titik perilaku lahir dan batinnya... Sehingga segala sesuatu yang ada pada beliau Saw di Ridhai-Nya...

Hal ini disebabkan karena pada dasarnya Fitrah seorang manusia adalah menjadi Hamba (abdi) Allah Ta'ala seperti yang tercantum dalam QS 51:56. Bukankah menjadi hamba-Nya yang senantiasa ridha kepada-Nya dan diRidhai-Nya adalah perintah-Nya ?...
Datanglah kepada-Nya.. dengan hati yang Tunduk dan pasrah... Ingatlah selalu Dia dalam segenap ruang hati dan jiwa kita... karena Dia-lah semata yang Maha Cinta, Maha Mengampuni segala dosa, menutupi segala aib (kekurangan) yang ada pada diri kita... Dia-lah semata yang Maha Menolong diri kita yang lemah tanpa daya ini dalam setiap duka dan kesusahan... dan Dia jualah semata yang senantiasa Setia menemani diri kita di dalam setiap liku-liku hidup dan kehidupan kita ini...

Setiap isi hati kita ini tiada yang menjadi rahasia bagi-Nya... dan setiap wajah akan tertunduk di hadapan Cahaya Wajah-Nya... Dia-lah yang Maha Segala-galanya...

" Ya, Ilahi... malam demi malam telah berlalu... siang pun telah datang Demi Keagungan-Mu, inilah kebiasaan malamku yang selalu aku lakukan untuk-Mu.
Demi Kemuliaan-Mu, meskipun mungkin Kau menolakku ketika aku mengetuk pintu-Mu, namun aku akan tetap menanti di hadapannya, karena hatiku sepenuhnya telah terpaut hanya untuk-Mu... "

" Ya Allah...
apapun yang Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini
berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
dan apapun yang Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti
berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
karena Engkau sendiri sudahlah cukup bagiku... "

" Ya, Ilahi... tenggelamkan aku dalam Cinta-Mu
hingga tiada satu pun yang akan menggangguku dalam Jumpa-Mu
Ya Ilahi... bintang-gemintang berkelap-kelip
manusia telah terlena dalam buai tidur lelap
pintu-pintu istana pun tlah rapat tertutup
Ya Ilahi... demikian malam pun berlalu
dan inilah siang datang menjelang
aku menjadi resah gelisah
apakah persembahan malamku Kau terima
hingga aku bisa mereguk Bahagia
Ataukah itu semua Kau tolak, hingga aku dihimpit duka...
Demi keMahakuasaan-Mu, inilah yang selalu aku lakukan
selama Kau beri aku kehidupan
andai Kau usir aku dari pintu-Mu
aku tidak akan pernah pergi berlalu
karena cintaku kepada-Mu sepenuh qalbu... "

(Rabi'ah al-Adawiyah)

KENALILAH DIRIMU

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Segala puji bagi Allah yg dengan limpahan kasih sayangNya..telah menjadikan alam begitu indah., hingga Sang mentari pagi berlomba dgn cicit pipit yang bersahutan dimana dendangnya merinai kesejukan ..dan merdunya melerai tabir kabut yg menyeruak alam.

Maakhalaqta haadza baatilaa..,sungguh tiada ada cacat yg tergores pada bongkah cintaNya..,tiada ada noda pada tirai ketulusanNya dan tiada ada rona bosan yg terbesit pada tiap janji - janjiNya.

Itulah Allah SWT..,Sang Kekasih yg kadang kita lupa tuk mengenangnya, kita lupa tuk menyapanya pada detak hari yg kian susut.,hingga cintanya yg tidak pernah pudar itu berbalas pengkhianatan  hamba-hambanya yg terpuruk lembah jelaga hati yg pekat.

Terkadang diri kita menjadi khilaf..atau memang dibuat menjadi khilaf yang pesonanya menoktah pada tiap perjalanan hari, hingga kita begitu terlena menyauh cinta pada sang Fatamorgana..,padahal cinta itu begitu mengecewakan.,menyayat hati, walau berawal pada rytme yg mendayu Syurga, hingga leburnya pada akhir sang kisahnya bagai pantai di pukul ombak.hilang tak berbekas..tinggalah buih yg terseret gelombang hampa.

Itulah cinta yg tanpa terimprovisasi oleh rasa ubudiyah hingga geloranya tergerak tanpa ta'zhim yg menjiwa, akibatnya kondisi jiwa yg seharusnya terpupuk oleh Mahabah ilallah itu menjadi gersang. Hidupnya terpenuhi oleh sifat-sifat yg tak memenuhi ( puas ), karena itulah sifat sang Dunia.yg dahaganya bagai air laut yg merontangkan jiwa.

Ada sebersit untai kasih pada AlQu'ran S. 42 : 19 yg berbunyi " Allahu latiifu bi'ibaadihi yarruzuqu manyasyaau wahuwalqawiyyul'adziizu..,yg artinya Sesungguhnya Allah itu lembut terhadap hamba-hambanya , Dia memberikan rizki kpd siapa yg dikehendakinya, dan Dialah yg maha kuat lagi Maha Perkasa .." , 
Subhaanallah sebuah ungkapan yg tulus serta lembut dan mengandung ketegasan akan sifat kekuasaanNya. Sebuah sifat yg sempurna dimana tiada ada satu makhlukpun yang dapat menandingi sifat2 tersebut. Sehingga setiap ketentuannya yang Allah berlakukan entah berupa Rahmat dan hukuman tidak lepas dari sifat Kasih-sayang dan KeadilanNya yang hakiki.

Banyak cara dalam upaya membalas cinta Allah tsb, dengan harapan akan kedekatan yg indah selalu bersamanya, salah satunya adalah mengenal jauh tentang diri kita sendiri..Man'arafa nafsahu faqad'arafa rabbahu..barang siapa mau mengenal dirinya maka ia akan mengenal tuhanNya..,sehingga manusia-manusia yang selalu berusaha mengenal Tuhannya melalui dirinya tsb, adalah menjadikan hidupnya penuh dgn introspeksi diri..,dimana secara jujur mengakui segala kekurangannya dgn cara Muhasabah ditengah sunyinya malam, dalam derai isak tangis ampunan atas segala langkah langkahnya yg lalai.

Muhasabah dan Muqarabbah tersebbut berawal dari sebuah niatan yg kuat akan peran serta kedudukannya sebagai seorang hamba yg Dho'if , dimana segala ketergantungan dalam hidupnya bermuara serta berakhir dalam genggamanNya.,maka dgn pengakuan Allah didalam Al-qur'an yg mengatakan.." Uulaaika yusaari'uuna filkhairaati wahum lahaa saabikuuna.'Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan dan merekalah yg segera memperolehnya.

Itulah janji Allah kepada orang-orang yg berusaha untuk mencari kebaikan yang berwujud pada sebuah ungkapan cinta kepada Allah ( taqwa ) sehingga .." Waanna sa'yahu saufayuraa ..Usaha-usahanya tsb akan diperlihatkan (Qs 53 :40 ) baik didunia berupa ketenangan didalam hidup, serta kepuasan yang tiada berakhir didalam yaumil akhir kelak.

Contoh-contoh singkat lain dalam upaya mencari Cinta serta keridhoanNya, adalah salah satunya memelihara anak2 yatim serta mengupayakan kehidupannya, menolong para fakir miskin dengan mencarikannya sebuah solusi hidup yang terbaik, melindungi para janda-janda syuhada di medan konflik, serta orang2 yang selalu menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Dan mereka-mereka itu selalu mengais kasih dengan cara mengetuk keridhoanNya disepertiga malam.,memohon ampun atas segala peluh alpa yg telah tersimbahkan..hingga rintih pada sisipan do'anya..berbunyi..

'Rabbanaa laatudzig quluubana.ba'daidzhadaytanaa'
Wahai Allah janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepad kesesatan setelah Engkau beri petunjuk..

'Wahablanaa minladunka rahmatan..'
Dan karuniakanlah kepad kami Rahmat dari sisi Engkau..

Innaka antal wahaabu.
Sesungguhnya Engkaulah maha pemberi Rahmat.( Qs 03:08 )

Wahai Allah aku memohon padaMu terhadap apapun yg Engkau putuskan bagi hidupku..
Dan kesejukan hidup setelah matiku..
Serta kelezatan memandang wajahMu..
Dan kerinduan saat berjumpa denganmu.
Sungguh yang kurasa saat paling menyenangkan adalah saat merindu dgn Mu, dan saat yg paling indah ketika melepas rindu bersama keridhoanMu.

Billahit taufiq wal hidayah
Wallahu a'lam bish-shawab.

Satya Pujangga

JANGAN LUPAKAN KEBAIKAN ORANG LAIN



KEBAIKAN
Banyak orang keluar masuk dalam hidup kita.
Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas keras.
Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya
Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.
Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan manik-manik
pembentuk mosaik catatan sejarah.
Gambaran itu sebenarnya telah terbentuk, hanya saja tak pernah selesai.
Atau kita salah lihat, sehingga seringkali tak bisa dinikmati keindahan karyanya.

Ambillah waktu sejenak untuk mengenang mereka yang pernah hadir dalam hidup
anda.
Kenanglah seluruh kebaikan mereka serta kebaikan yang mungkin tersembunyi di balik tabir kekecewaan.
Mereka adalah orangtua dan guru, sanak dan kerabat, teman serta sahabat.
Juga tiada salahnya mengenang mereka yang pernah anda anggap musuh dan pengkhianat.
Atau yang tak pernah anda tahu nama dan wajahnya.
Bagaimana pun mereka telah turut memahat pribadi anda; menyapukan tinta pada lukisan hidup anda; menyiangi tanaman jiwa anda.

Kenanglah dalam genangan cinta yang tak bertepi. Hanya dalam tatapan cintalah anda bisa memandang indahnya kehidupan ini.
Karena tiada secuilpun hidup yang perlu disesali, maka hanya cinta dan kasih
sayanglah jawabannya.


Pengirim : Anisah Khoiriyah